Senin, 24 Desember 2018

EVALUASI PROGRAM BEKERJA DARI STAFF AHLI KEMENTAN, DENGAN BLUSUKAN KE DESA LANGSUNG


Yogyakarta-23/12/2018. Program Bekerja merupakan salah satu Program Unggulan dari Kabinet Bekerja yang langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat berupa bantuan ayam sejumlah 50 ( limapuluh ) ekor setiap Rumah Tangga Miskin ( RTM). Program yang mulai digulirkan sejak Bulan Agustus 2018 ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan rakyat dengan mendongkrak pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui sector peternakan ayam dalam skala rumah tangga, pendapatan dari penjualan telur dan ayam, serta pemenuhan kebutuhan protein keluarga. Setelah berbagai tahapan, dari persiapan, verifikasi data RTM, Bimbingan Teknis pada RTM dan Koordinator Desa, Pendamping Kecamatan, Koordinasi dengan Dinas Kabupaten Banyumas dan Purbalingga, Koordinasi dengan Babinsa, aparat keamanan baik TNI maupun POLRI  serta pelibatan semua stake holder dalam distribusi pakan, obat-obatan dan puncaknya adalah ayam , selesai di Bulan November 2018, maka Program BEKERJA memasuki masa evaluasi. Tahapan Evaluasi Program BEKERJA dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait langsung sudah dilaksanakan pada 12 November 2018.
Sebagai bagian dari Evaluasi Kementerian Pertanian juga melakukan program Turun Langsung Lapangan dengan menugaskan drh. Prabowo Respatiyo Caturroso, MM.Phd, staff Ahli Menteri Pertanian pada hari Kamis, 20 Desember 2018 untuk mengetahui kondisi nyata dari peternak yang notabene adalah Rumah Tangga Miskin, dengan berbagai latar belakang kondisi. Prabowo yang juga seorang dokter hewan turun ke desa-desa di Banyumas didampingi Tim dari Balai Besar Veteriner Wates sebagai UPT ( Unit Pelaksana Teknis ) Kementerian Pertanian pelaksana Program Bekerja di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Agenda turun ke bawah tersebut diawali dengan diskusi dan koordinasi dengan Dinas yang terkait Program BEKERJA, yang diwakili Ir. Achmad Subekti Kabid pengembangan dan pengolahan hasil ternak  Dinas Peternakan Kabupaten Banyumas, selanjutnya Tim langsung berkeliling dari  peternak-ke peternak di desa tujuan.
Beberapa poin penting menjadi catatan dalam kunjungan blusukan langsung ke peternak miskin tersebut, diantaranya : 

  1. Bahwa berkurangnya jumlah ternak bantuan di tingkat desa dan RTM penerima tidak mutlak disebabkan karena kematian ayam, namun banyak terjadi pengurangan jumlah karena dikonsumsi dan dijual tetapi dilaporkan sebagai kematian. Hal ini perlu difahami karena kondisi penerima bantuan adalah memang rumah tangga miskin yang kekurangan secara ekonomi.
  2. Beberapa factor non teknis seperti pencairan dana pembuatan kandang karena factor hambatan adminsitrasi menjadi catatan yang harus diperbaiki untuk program Bekerja tahun 2019, karena berimbas pada factor teknis seperti kandang yang tidak sesuai dengan desain standart, pemeliharaan ayam yang terhambat dan juga efek pada factor non teknis lain seperti berhutangnya RTM untuk pembuatan kandang.Faktor non teknis lain adalah ditemukannya pedagang ayam keliling yang membeli ayam bantuan dengan modus kurang baik, hal ini juga menjadi catatan kecil bahwa perlu pengawalan dan pemahaman peternak serta pendamping desa dan kecamatan.
  3. Latar belakang RTM penerima program Bekerja didapatkan 50% lebih berusia diatas 45 ( empatpuluh lima ) tahun, sehingga ada hambatan-hambatan fisik dan komunikasi.
  4. Catatan positif yang merupakan peluang besar bagi pengembangan Program Bekerja adalah adanya peluang Mou atau perjanjian kerja dengan supplier ayam bantuan untuk membeli ayam setelah ayam memiliki berat badan yang layak untuk dikonsumsi, terutama ayam jantan. Hal serupa, berupa peluang kerjasama juga didapatkan melalui Badan Usaha Milik Desa ( BUMDES ) yang setelah kunjungan, diperoleh informasi bahwa beberapa desa sanggup untuk mnjadi lembaga pembantu dalam penjualan ayam dan telur saat sudah memasuki masa siap jual.
  5. Kondisi ternak ayam bantuan saat kunjungan juga sudah banyak yang bertelur dan berat badan , terutama untuk pejantan sudah siap jual.
Dengan data-data yang didapatkan langsung dari peternak dan RTM penerima Program Bekerja tersebut, disimpulkan bahwa Program Bekerja , Bedah kemiskinan Rakyat Sejahtera sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan masyarakat sangat berharap keberlanjutan program tersebut.(iBAS)

Sabtu, 15 Desember 2018

MONITORING DAN KUNJUNGAN KELOMPOK TERNAK PENERIMA PROGRAM PENANGGULANGAN GANGREP 2018


Gunung Kidul 12/12/2018. Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi yang merupakan bagian dari Program Nasional UPSUS SIWAB oleh Balai Besar Veteriner Wates, dari tahun ke tahun di lakukan evaluasi secara bersama-sama dengan dinas. Diantara acara evalusi juga dilakukan kunjungan lapang ke kelompok ternak, sebagai pelaku dan penerima Program dari Pemerintah , kunjungan ini untuk melihat dan mengetahui secara langsung pendapat ,harapan dan saran dari peternak, petugas serta pemerintah daerah. Pada evaluasi tahun ini, unjungan diarahkan ke Gunung Kidul. Hadir dalam kunjungan tersebut Ir Bambang Wisnu Broto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul yang memberikan respon positif terhadap Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi di Gunung Kidul. 
Setelah kunjungan ke Kelompok Tani DADI SUBUR, Kab. Gunung Kidul kegiatan evaluasi dilanjutkan dengan acara kebersamaan seluruh peserta di Pantai Sadranan, Gunung Kidul dan Candi Prambanan. Acara hari ketiga dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Pakar Reproduksi dari akademisi dan Pemegang Kebijakan Program UPSUS SIWAB yang diwakili Seknas UPSUS SIWAB, Drh. Maidaswar.( iBAS )

Rabu, 12 Desember 2018

EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN GANGREP 2018


Yogyakarta-12 Desember 2018.  Program Penanggulangan Gangguran Reproduksi yang dilaksanakan tahun 2018 telah selesai dilaksanakan. Sebagai bagian penting kegiatan Program tersebut maka dilakukan Evalauasi Akhir Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi tahun 2018, peserta yang diundang meliputi seluruh kabupaten kota yang mendapatkan program Penanggulangan Gangguan Reproduksi UPSUS SIWAB, yang terdiri dari kurang lebih 78 wilayah. Peserta masing masing terdiri dari 2-3 personil dinas , baik medic,paramedic, inseminator ataupun structural yang mewakili Pelaksana Program di kabupaten kota dengan jumlah 250 peserta. Kegiatan dilaksanakan selama 3 ( tiga ) hari di Hotel Cavinton Yogyakarta dari tanggal 11 hingga tanggal 13 Desember 2018, yang meliputi kegiatan di ruangan di Cavinton Hotel , juga kunjungan lapangan ke Sleman dan Gunung Kidul untuk mengetahui secara langsung keberhasilan Program di tingkat kelompok ternak.
Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penanggulangan Gangguan Reproduksi menghadirkan Direktur Kesehatan Hewan yang diwakili oleh Drh Pudjiatmoko,Phd. , Perwakilan bidang yang menangani kesehatan hewan dan peternakan Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI. Yogyakarta. Pemateri dari akademisi menghadirkan DR. drh. Agung dari bagian Reproduksi Universitas Gadjah Mada dan DR.drh. Trilas Sarjito dari Universitas Airlangga Surabaya. Pemateri terakhir adalah drh. Maidaswar yang merupakan seknas UPSUS SIWAB, yang menyampaikan progress akhir UPSUS SIWAB tahun 2018 dan perencanaan serta informasi awal terkait keberlanjutan Program UPSUS SIWAB tahun 2019.
Acara ini diakhiri dengan agenda penyampaian rumusan Evaluasi Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi oleh Panitia dan ditutup Kepala Balai Besar Veteriner Wates, drh. Bagoes Poermadjaja, MSc.( iBAS)

Selasa, 11 Desember 2018

PENDAMPINGAN PROGRAM GANGREP UPSUS SIWAB DI KABUPATEN BLORA

Pekan kedua Desember 2018, 3 ( Tiga ) Tim Balai Besar Veteriner Wates meluncur di lokasi kecamatan yang berbeda untuk melalukan monitoring terhadap keberhasilan Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi dan UPSUS SIWAB di Kabupaten Blora Jawa Tengah. 
Kegiatan ini bertujuan utama mendapatkan data mengenai Sapi- sapi aseptor Program Gangguan Reproduksi terkait kesembuhannya pasca pengobatan. Kegiatan dilakukan dengan Pemeriksaan Kebuntingan ( PKB ) . Drh Nining ( Medik Vet ) menyatakan bahwa lebih dari 90% dari hasil PKB didapatkan kesembuhan pada Sapi Betina yang diperiksa, dan 70% diantaranya sudah mengalami kebuntingan.  Drh Nining dengan Tim sejumlah 4 ( empat) orang paramedik dari dinas Kabupaten Blora dan Balai Besar Veteriner Wates menyusuri rumah peternak dari pintu ke pintu, di Desa Nglandeyan Kecamatan Kedungtuban .  Bapak Bunowo , seorang peternak didesa Nglandeyan menyatakan bahwa ,program Penanggulangan Gangrep UPSUS SIWAB sangat bermanfaat bagi peternak, karena semua gratis, hal itu sangat membantu peternak, termasuk dirinya dimana sapinya juga sudah bunting 3 bulan. Hal senada disampaikan Mas Kemi, yang merasakan manfaat dari Program Gratis kawin dan pengobatan ini. 

Disisi lain panasnya Blora yang kemarin mencapai 40 0C , Tim Drh. Triwidyaningsih juga sedang melakukan  Pendampingan UPSUS SIWAB kabupaten Blora, Desa Pojok Watu kecamatan Sambong, hasil pendataan dengan pemeriksaan rektal menunjukkan bahwa tingkat kebuntingan dan kesembuhan di Blora cukup tinggi.  Tim terjauh dipimpin oleh Drh Siwi didaerah Desa Jambe Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi, dengan model yang sama ,yaitu door to door, dari pintu kepintu, menyusuri lembah dan Ngarai, gang demi gang membelah teriknya panas di bulan Desember. 
Dari hasil ke-3 Tim didapatkan kesimpulan bahwa pendampingan kegiatan lapangan melalui pemeriksaan Rektal untuk mengetahui keberhasilan pengobatan dan hasil kawin suntik sebagai kegiatan utama Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi UPSUS SIWAB sangat perlu dilakukan. ( Ibas )

Kamis, 06 Desember 2018

CARA MENGELUARKAN SEMUT YANG MASUK TELINGA

  1. Ambil senter, dan arahkan ke telinga. semut akan keluar sendiri, karena semut mencari sumber cahaya. dia juga kebingungan tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari telinga, yang bagi dia telinga kita itu ibarat gua yang gelap.
  2. Cuma tahan nafas nutup hidung dan telinga yg berlawanan dengan telinga yg di masukin semut. Insya allah semut nya keluar ( bas )

YES....!!! AYAM PROGRAM BEKERJA MULAI BERTELUR


Banyumas-5/12/2018 . Kegiatan Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera ( BEKERJA ) Kementerian Pertanian  yang dilaksanakan di Kabupaten Banyumas sudah menunjukkan hasil , beberapa ayam milik Pak Narkim di Dusun Suro Desa Suro Kecamatan KALIBAGOR sudah mulai bertelur. Keberhasilan dari pemeliharaan ayam pda program Bekerja ini diketahui saat dilakukan Monitoring dan Pendampingan Tim Inspektorat Kementerian Pertanian dan Tim Balai Besar Veteriner Wates hari Kamis tanggal 5 Desember 2018 kemarin. Tim Inspektorat yang  punya tujuan utama untuk mengetahui perkembangan jumlah dan kondisi ternak bantuan Program Bekerja serta kemungkinan berbagai masalah yang menghambat program tersebut , menemukan bahwa di beberapa lokasi ternak ayam sudah ada yang mulai bertelur.
Drh Theresia Siwi menyampaikan bahwa peternak sangat antusias terhadap Program Bekerja, bahkan seorang nenek yang ditemuinya pernah menangis  ketika ayam bantuan yang diterimanya sakit dan mati, Penduduk penerima bantuan yang disebut Rumah Tangga Miskin pada kenyataannya memang benarbenar mengalami kesulitan hidup, jangankan untuk membeli pakan ayam sedangkan untuk membeli makan bagi diri dan keluargannya saja sulit, jadi mau tidak mau petugas monitoring bias memahami ketika ada sebagian RTM yang menjual ayamnya untuk keperluan memnuhi kebutuhan sehari-hari.
Program pendampingan dan Monitoring oelh Inspektorat yang berlangsung selama 3-4 hari tersebut diharapkan dapat mengetahui perkembangan Program Bekerja baik berupa bantuan Ayam dari Ditjen PKH-BBVet Wates maupun bantuan tanaman dari Dirjen Horti. Dan diharapkan dari hasil kunjungan yang diisi dengan wawancara kepada RTM sejumlah kurang lebih 15 orang tersebut dapat diketahui hal-hal yang bisa menjadi koreksi dan evaluasi bagi perbaikan Program Bekerja di tahun 2019. ( BAS )