Minggu, 16 Agustus 2020
Rabu, 22 April 2020
Investigasi Kematian Ayam Bekerja
Tahun 2019 kemarin merupakan tahun penuh perjuangan bagi Balai Besar Veteriner Wates. Berbagai program harus dijalankan demi tahapan menuju kesuksesan
Jumat, 02 Agustus 2019
PERTARUNGAN BULAN
Pertarungan antara manusia dan allien, terjadi di bulan yang bersinar sangat terang. Allien berjumlah banyak sekali melawan astronot yang jmlahnya satu orang. Tetapi astronotnya menang karena memiliki kekuatan dari pedang ultra merah.Pertarungan berlangsung sengit sampai berjam-jam. Kedua jagoan mengeluatrkan kekuatannya secara maksima;
Jumat, 14 Juni 2019
KEMENTERIAN PERTANIAN TERJUN LANGSUNG ATASI DAN ANTISIPASI BERBAGAI PERMASALAHAN PERUNGGASAN INDONESIA 2019
Surakarta ---Bertempat di Hotel Syariah Surakarta,
bertepatan dengan Jumat kliwon , yang merupakan hari keramat masyarakat jawa , menjadi
tonggak penting tahun ini untuk dunia perunggasan Indonesia. Over produksi DOC,
Over Produksi Live Bird- daging ayam di pasaran, Peningkatan jumlah Broker Unggas
Komersial , Regulasi mengenai RPHU( Rumah Potong Hewan Unggas) dan Hatchery ( Perusahaan penetasan ) dan DOC serta
berbagai permasalahan lain menjadi topik utama dalam pertemuan dan diskusi ini. Pertemuan dan diskusi hari ini berlangsung
penuh kekeluargaan , meskipun beberapa hal harus disepakati setelah melalui
diskusi alot dan adu argumentasi. Acara dengan Tema utama Diskusi dan Langkah
Stabilitasi Produksi, Distribusi dan Harga Live Bird ( Unggas Hidup ) di
wilayah Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta ini dihadiri oleh seluruh
undangan yang meliputi 45 elemen Perunggasan Indonesia dan dibuka secara resmi
oleh Dirjennak DR. Drh Ketut Diarmita, MP yang didampingi jajaran dari Direktorat
Pakan dan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan ( BBVet Wates). Elemen
perunggasan yang hadir termasuk Organisasi penggiat Perunggasan seperti GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), Pinsar
Indonesia (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat
Indonesia) serta perusahaan perunggasan seperti PT Charoen
Pohphand Indonesia PT. Malindo Feedmill Indonesia, PT. Japfa Comfeed / Ciomas,PT.
Sido Agung ,PT. Wonokoyo Jaya Corp,PT. Super Unggas Jaya, PT. Panca Patriot,PT.
Januputra Jogja, PT. Amanah, PT. UMI Group, PT. Mustika Jaya Lestari, PT Arjuna
Jatim dan perusahaan perunggasan lain. Pertemuan dan diskusi ini juga dihadiri
oleh perwakilan ARPHUIN (Asosiasi Rumah Potong
Hewan Unggas Indonesia ) serta perwakilan Satgas Pangan Mabes
Polri dan Kementerian Perdagangan.Kesepakatan dari diskusi dan pertemuan ini diantaranya adalah Pelaksanaan pengurangan DOC FS broiler. Akan di tandatangani Pakta Integritas antara Integrator terkait distribusi daging dan Live Bird serta kaitannya dengan importasi. Diperoleh kesepakatan mengenai Penataan dan pendataan pelaku perdagangan/ broker unggas komersial dan pelibatan Satgas Pangan mabes Polri dalam pengawasannya. Pendataan oleh Dinas mengenai perusahaan, peternak mandiri, peternak UMKM serta jumlah kandang dan kapasitas terpasang, jumlah RPHU beserta kapasitas cold storage baik yang dimiliki oleh swasta maupun Pemerintah. Dinas akan melakukan pembinaan kepada perusahaan, peternak mandiri, peternak UMKM di wilayahnya.
Selanjutnya disepakati untuk melakukan review Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi terutama Pasal 12 mengenai kepemilikan RPHU dan rantai dingin dalam rangka penyempurnaan regulasi di bidang perunggasan dan definisi integrator dan peternak mandiri. Disepakati juga mengenai akan dilakukannya review Permendag Nomor 96 Tahun 2018 terkait harga acuan. Kemendag akan mengeluarkan himbauan kepada ARPHUIN untuk bekerjasama dengan pasar retail modern dalam membantu menyerap stock LB dan daging ayam terutama di wilayah Jateng dan Jatim. Selanjutnya Kemendag juga akan melakukan himbauan kepada perusahaan perunggasan untuk bagian CSR nya agar dapat memberikan bantuan ayam hidup kepada masyarakat.
Terkait pemasaran Kemendag akan mengkaji pengaturan segmentasi pasar unggas. Dalam hal pengawasan dan pengawalan kesepakatan maka Satgas Pangan Mabes Polri akan mendalami terkait temuan-temuan dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan usaha ayam ras. Pertemuan ditutup pada menjelang sore hari oleh DR. Drh Ketut Diarmita, MP dengan penuh harapan bagi stabilitas pasar unggas serta kemajuan peternakan Indonesia /BAS
Senin, 24 Desember 2018
EVALUASI PROGRAM BEKERJA DARI STAFF AHLI KEMENTAN, DENGAN BLUSUKAN KE DESA LANGSUNG
Yogyakarta-23/12/2018.
Program Bekerja merupakan salah satu Program Unggulan dari
Kabinet Bekerja yang langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat berupa bantuan
ayam sejumlah 50 ( limapuluh ) ekor setiap Rumah Tangga Miskin ( RTM). Program
yang mulai digulirkan sejak Bulan Agustus 2018 ini diharapkan dapat
meningkatkan pendapatan rakyat dengan mendongkrak pendapatan Rumah Tangga
Miskin melalui sector peternakan ayam dalam skala rumah tangga, pendapatan dari
penjualan telur dan ayam, serta pemenuhan kebutuhan protein keluarga. Setelah
berbagai tahapan, dari persiapan, verifikasi data RTM, Bimbingan Teknis pada
RTM dan Koordinator Desa, Pendamping Kecamatan, Koordinasi dengan Dinas
Kabupaten Banyumas dan Purbalingga, Koordinasi dengan Babinsa, aparat keamanan
baik TNI maupun POLRI serta pelibatan
semua stake holder dalam distribusi pakan, obat-obatan dan puncaknya adalah
ayam , selesai di Bulan November 2018, maka Program BEKERJA memasuki masa
evaluasi. Tahapan Evaluasi Program BEKERJA dengan melibatkan semua stakeholder
yang terkait langsung sudah dilaksanakan pada 12 November 2018.
Sebagai bagian dari Evaluasi Kementerian
Pertanian juga melakukan program Turun Langsung Lapangan dengan menugaskan drh.
Prabowo Respatiyo Caturroso, MM.Phd, staff Ahli Menteri Pertanian pada hari
Kamis, 20 Desember 2018 untuk mengetahui kondisi nyata dari peternak yang
notabene adalah Rumah Tangga Miskin, dengan berbagai latar belakang kondisi. Prabowo
yang juga seorang dokter hewan turun ke desa-desa di Banyumas didampingi Tim
dari Balai Besar Veteriner Wates sebagai UPT ( Unit Pelaksana Teknis ) Kementerian
Pertanian pelaksana Program Bekerja di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga.
Agenda turun ke bawah tersebut diawali dengan diskusi dan koordinasi dengan
Dinas yang terkait Program BEKERJA, yang diwakili Ir. Achmad Subekti Kabid pengembangan dan
pengolahan hasil ternak Dinas Peternakan Kabupaten Banyumas,
selanjutnya Tim langsung berkeliling dari peternak-ke peternak di desa tujuan.
Beberapa poin penting menjadi catatan dalam
kunjungan blusukan langsung ke peternak miskin tersebut, diantaranya :
- Bahwa berkurangnya jumlah ternak bantuan di tingkat desa dan RTM penerima tidak mutlak disebabkan karena kematian ayam, namun banyak terjadi pengurangan jumlah karena dikonsumsi dan dijual tetapi dilaporkan sebagai kematian. Hal ini perlu difahami karena kondisi penerima bantuan adalah memang rumah tangga miskin yang kekurangan secara ekonomi.
- Beberapa factor non teknis seperti pencairan dana pembuatan kandang karena factor hambatan adminsitrasi menjadi catatan yang harus diperbaiki untuk program Bekerja tahun 2019, karena berimbas pada factor teknis seperti kandang yang tidak sesuai dengan desain standart, pemeliharaan ayam yang terhambat dan juga efek pada factor non teknis lain seperti berhutangnya RTM untuk pembuatan kandang.Faktor non teknis lain adalah ditemukannya pedagang ayam keliling yang membeli ayam bantuan dengan modus kurang baik, hal ini juga menjadi catatan kecil bahwa perlu pengawalan dan pemahaman peternak serta pendamping desa dan kecamatan.
- Latar belakang RTM penerima program Bekerja didapatkan 50% lebih berusia diatas 45 ( empatpuluh lima ) tahun, sehingga ada hambatan-hambatan fisik dan komunikasi.
- Catatan positif yang merupakan peluang besar bagi pengembangan Program Bekerja adalah adanya peluang Mou atau perjanjian kerja dengan supplier ayam bantuan untuk membeli ayam setelah ayam memiliki berat badan yang layak untuk dikonsumsi, terutama ayam jantan. Hal serupa, berupa peluang kerjasama juga didapatkan melalui Badan Usaha Milik Desa ( BUMDES ) yang setelah kunjungan, diperoleh informasi bahwa beberapa desa sanggup untuk mnjadi lembaga pembantu dalam penjualan ayam dan telur saat sudah memasuki masa siap jual.
- Kondisi ternak ayam bantuan saat kunjungan juga sudah banyak yang bertelur dan berat badan , terutama untuk pejantan sudah siap jual.
Sabtu, 15 Desember 2018
MONITORING DAN KUNJUNGAN KELOMPOK TERNAK PENERIMA PROGRAM PENANGGULANGAN GANGREP 2018

Gunung Kidul 12/12/2018. Program Penanggulangan
Gangguan Reproduksi yang merupakan bagian dari Program Nasional UPSUS SIWAB
oleh Balai Besar Veteriner Wates, dari tahun ke tahun di lakukan evaluasi secara
bersama-sama dengan dinas. Diantara acara evalusi juga dilakukan kunjungan
lapang ke kelompok ternak, sebagai pelaku dan penerima Program dari Pemerintah
, kunjungan ini untuk melihat dan mengetahui secara langsung pendapat ,harapan
dan saran dari peternak, petugas serta pemerintah daerah. Pada evaluasi tahun
ini, unjungan diarahkan ke Gunung
Kidul. Hadir dalam kunjungan tersebut Ir Bambang Wisnu Broto, Kepala
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul yang memberikan respon
positif terhadap Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi di Gunung Kidul.
Setelah kunjungan ke Kelompok Tani
DADI SUBUR, Kab. Gunung Kidul kegiatan evaluasi dilanjutkan dengan acara kebersamaan seluruh
peserta di Pantai Sadranan, Gunung Kidul dan Candi Prambanan. Acara hari ketiga dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Pakar Reproduksi dari akademisi dan Pemegang Kebijakan Program UPSUS SIWAB yang diwakili Seknas UPSUS SIWAB, Drh. Maidaswar.( iBAS )
Rabu, 12 Desember 2018
EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN GANGREP 2018
Yogyakarta-12 Desember 2018. Program Penanggulangan Gangguran Reproduksi
yang dilaksanakan tahun 2018 telah selesai dilaksanakan. Sebagai bagian penting
kegiatan Program tersebut maka dilakukan Evalauasi Akhir Program Penanggulangan
Gangguan Reproduksi tahun 2018, peserta yang diundang meliputi seluruh
kabupaten kota yang mendapatkan program Penanggulangan Gangguan Reproduksi
UPSUS SIWAB, yang terdiri dari kurang lebih 78 wilayah. Peserta masing masing
terdiri dari 2-3 personil dinas , baik medic,paramedic, inseminator ataupun structural
yang mewakili Pelaksana Program di kabupaten kota dengan jumlah 250 peserta.
Kegiatan dilaksanakan selama 3 ( tiga ) hari di Hotel Cavinton Yogyakarta dari
tanggal 11 hingga tanggal 13 Desember 2018, yang meliputi kegiatan di ruangan
di Cavinton Hotel , juga kunjungan lapangan ke Sleman dan Gunung Kidul untuk
mengetahui secara langsung keberhasilan Program di tingkat kelompok ternak.
Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penanggulangan
Gangguan Reproduksi menghadirkan Direktur Kesehatan Hewan yang diwakili oleh
Drh Pudjiatmoko,Phd. , Perwakilan bidang yang menangani kesehatan hewan dan
peternakan Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI. Yogyakarta. Pemateri dari
akademisi menghadirkan DR. drh. Agung dari bagian Reproduksi Universitas Gadjah
Mada dan DR.drh. Trilas Sarjito dari Universitas Airlangga Surabaya. Pemateri
terakhir adalah drh. Maidaswar yang merupakan seknas UPSUS SIWAB, yang
menyampaikan progress akhir UPSUS SIWAB tahun 2018 dan perencanaan serta
informasi awal terkait keberlanjutan Program UPSUS SIWAB tahun 2019.
Acara ini diakhiri dengan agenda penyampaian
rumusan Evaluasi Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi oleh Panitia dan
ditutup Kepala Balai Besar Veteriner Wates, drh. Bagoes Poermadjaja, MSc.( iBAS)
Selasa, 11 Desember 2018
PENDAMPINGAN PROGRAM GANGREP UPSUS SIWAB DI KABUPATEN BLORA
Pekan kedua Desember 2018, 3 ( Tiga ) Tim Balai
Besar Veteriner Wates meluncur di lokasi kecamatan yang berbeda untuk melalukan
monitoring terhadap keberhasilan Program Penanggulangan Gangguan Reproduksi dan
UPSUS SIWAB di Kabupaten Blora Jawa Tengah.
Kegiatan ini bertujuan utama mendapatkan data
mengenai Sapi- sapi aseptor Program Gangguan Reproduksi terkait kesembuhannya
pasca pengobatan. Kegiatan dilakukan dengan Pemeriksaan Kebuntingan ( PKB ) .
Drh Nining ( Medik Vet ) menyatakan bahwa lebih dari 90% dari hasil PKB
didapatkan kesembuhan pada Sapi Betina yang diperiksa, dan 70% diantaranya
sudah mengalami kebuntingan. Drh Nining dengan
Tim sejumlah 4 ( empat) orang paramedik dari dinas Kabupaten Blora dan Balai
Besar Veteriner Wates menyusuri rumah peternak dari pintu ke pintu, di Desa
Nglandeyan Kecamatan Kedungtuban . Bapak
Bunowo , seorang peternak didesa Nglandeyan menyatakan bahwa ,program
Penanggulangan Gangrep UPSUS SIWAB sangat bermanfaat bagi peternak, karena
semua gratis, hal itu sangat membantu peternak, termasuk dirinya dimana sapinya
juga sudah bunting 3 bulan. Hal senada disampaikan Mas Kemi, yang merasakan
manfaat dari Program Gratis kawin dan pengobatan ini.
Disisi lain panasnya
Blora yang kemarin mencapai 40 0C , Tim Drh. Triwidyaningsih juga sedang melakukan Pendampingan UPSUS SIWAB kabupaten Blora, Desa
Pojok Watu kecamatan Sambong, hasil pendataan dengan pemeriksaan rektal
menunjukkan bahwa tingkat kebuntingan dan kesembuhan di Blora cukup tinggi. Tim terjauh dipimpin oleh Drh Siwi didaerah Desa
Jambe Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang berbatasan langsung dengan Kabupaten
Bojonegoro dan Ngawi, dengan model yang sama ,yaitu door to door, dari pintu
kepintu, menyusuri lembah dan Ngarai, gang demi gang membelah teriknya panas di
bulan Desember.
Dari hasil ke-3 Tim didapatkan kesimpulan bahwa
pendampingan kegiatan lapangan melalui pemeriksaan Rektal untuk mengetahui
keberhasilan pengobatan dan hasil kawin suntik sebagai kegiatan utama Program
Penanggulangan Gangguan Reproduksi UPSUS SIWAB sangat perlu dilakukan. ( Ibas )
Kamis, 06 Desember 2018
CARA MENGELUARKAN SEMUT YANG MASUK TELINGA
- Ambil senter, dan arahkan ke telinga. semut akan keluar sendiri, karena semut mencari sumber cahaya. dia juga kebingungan tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari telinga, yang bagi dia telinga kita itu ibarat gua yang gelap.
- Cuma tahan nafas nutup hidung dan telinga yg berlawanan dengan telinga yg di masukin semut. Insya allah semut nya keluar ( bas )
YES....!!! AYAM PROGRAM BEKERJA MULAI BERTELUR
Banyumas-5/12/2018 . Kegiatan Bedah Kemiskinan
Rakyat Sejahtera ( BEKERJA ) Kementerian Pertanian yang dilaksanakan di Kabupaten Banyumas sudah
menunjukkan hasil , beberapa ayam milik Pak Narkim di Dusun Suro Desa Suro Kecamatan
KALIBAGOR sudah mulai bertelur. Keberhasilan dari pemeliharaan ayam pda
program Bekerja ini diketahui saat dilakukan Monitoring dan Pendampingan Tim
Inspektorat Kementerian Pertanian dan Tim Balai Besar Veteriner Wates hari
Kamis tanggal 5 Desember 2018 kemarin. Tim Inspektorat yang punya tujuan utama untuk mengetahui
perkembangan jumlah dan kondisi ternak bantuan Program Bekerja serta
kemungkinan berbagai masalah yang menghambat program tersebut , menemukan bahwa
di beberapa lokasi ternak ayam sudah ada yang mulai bertelur.
Drh Theresia Siwi menyampaikan bahwa peternak
sangat antusias terhadap Program Bekerja, bahkan seorang nenek yang ditemuinya
pernah menangis ketika ayam bantuan yang
diterimanya sakit dan mati, Penduduk penerima bantuan yang disebut Rumah Tangga
Miskin pada kenyataannya memang benarbenar mengalami kesulitan hidup, jangankan
untuk membeli pakan ayam sedangkan untuk membeli makan bagi diri dan
keluargannya saja sulit, jadi mau tidak mau petugas monitoring bias memahami
ketika ada sebagian RTM yang menjual ayamnya untuk keperluan memnuhi kebutuhan
sehari-hari.
Program pendampingan dan Monitoring oelh
Inspektorat yang berlangsung selama 3-4 hari tersebut diharapkan dapat mengetahui
perkembangan Program Bekerja baik berupa bantuan Ayam dari Ditjen PKH-BBVet
Wates maupun bantuan tanaman dari Dirjen Horti. Dan diharapkan dari hasil
kunjungan yang diisi dengan wawancara kepada RTM sejumlah kurang lebih 15 orang
tersebut dapat diketahui hal-hal yang bisa menjadi koreksi dan evaluasi bagi
perbaikan Program Bekerja di tahun 2019. ( BAS )
Rabu, 05 Desember 2018
BALAI BESAR VETERINER WATES BERBAGI PENGALAMAN, ILMU DAN KETRAMPILAN PENGUJIAN
Yogyakarta-6/12/2018. Sebagai laboratorium pengujian penyakit hewan yang sudah puluhan
tahun berdiri, yaitu sejak 1989 Balai Besar Veteriner Wates menjadi tempat
laboratorium type B atau type C untuk belajar dan magang dalam hal pengujian
penyakit hewan. Hampir tiap tahun selalu ada laboratorium dari berbagai wilayah
datang untuk belajar di BBVet Wates.
Bulan Desember 2018 ini Stasiun Karantina Kelas
II Cilacap mengirimkan 3 personil Paramedik Veterinernya untuk belajar Pengujian
Brucellosis dengan Uji RBT ( Rose Bengal
Test ). Indra Tri W, A.Md, Mumfarid,
A.Md dan Trimo Bekti,A.Md mempelajari metode pengujian penyakit Brucellosis
dengan Uji RBT dilanjutkan dengan Uji CFT ( Complemen Fixation Test ) , kedua
uji ini merupakan gold standart untuk diagnose bakteri Brucellosis yang dikenal sebagai penyebab keguguran pada
Sapi, Domba dan Kambing serta Ruminansia pada umumnya. Mereka mengikuti
kegiatan pengujian di laboratorium Serologi BBVet Wates selama 2 ( dua ) hari
yaitu tanggal 4 dan 5 Desember 2018, dari mulai pengambilan contoh darah,
penanganan sample, pemisahan cloth atau gumpalan darah dengan serum yang akan
diuji, sampai dengan penghitungan titer CFT sebagai hasil akhir pengujian
penyakit Brucellosis.
Kegiatan magang ini dilakukan dalam rangka
peningkatan kompetensi personil Stasiun Karantina pada pengujian RBT dan CFT , yang sangat diperlukan dimasa depan, sebab
sebagaimana fungsinya Cilacap menjadi salah satu lokasi pemasukan Sapi ke Pulau
Jawa dari berbagai daerah bahkan dari Australia. ( BAS).
Selasa, 04 Desember 2018
SI YELO DATANG HATI SENANG KERJA RIANG
Yogya-5/12/2018 . Senin 3 Desember 2018 menjadi
hari yang bersejarah dalam kehidupan Penglajo Jogja-Wates,Karyawan BBVet Wates mulai
senin kemarin dengan bersuka hati menyambut berfungsinya Bis Jemputan Karyawan
yang dijuluki “ Si Yelo” setelah Si Ungu pension karena sudah sepuh. Kenangan
indah sempat terpatri di hati para ndudukers* dengan Mas Boy, Mas Antar,
Rahardjo dan Bang Aladin……mereka adalah nama bis umum yang lewat BBVet Wates,
tentu tak lupa “Menoreh-Sang Bledug Gandum yang selalu memberi PHP karena ndak
pernah lewat depan Kantor kalo dari Jogja.
Drh. Bagoes Poermadjaja, Kepala Balai Besar
Veteriner Wates sangat berharap dengan fasilitas bus jemputan tersebut maka
kinerja karyawan yang tinggal di kota Jogja dan sekitarnya dapat meningkat, dan
memberikan sumbang sih berupa kontribusi kepada Balai, Ditjen PKH Kementerian
Pertanian, serta Bangsa dan Negara. Hal
tersebut diampaikan dalam Apel Rutin Senin Pagi kemarin di halaman Balai Besar
Veteriner Wates Jogjakarta.
*Nduduk:istilah jawa timur untuk orang yang melakukan perjalanan pulang
pergi ke suatu daerah secara rutin.
Senin, 03 Desember 2018
BALAI BESAR VETERINER WATES MENJADI YANG PERTAMA MENYELESAIKAN PROGRAM BEKERJA
Yogyakarta-4/12/2018. Sejak kemarin
hingga hari ini Selasa 4 Desember 2018, berlokasi di Hotel Cavinton Yogyakarta
Balai Besar Veteriner Wates mengundang elemen masyarakat dari pelosok desa di
Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Mereka berasal dari desa-desa dari kecamatan
Jatilawang, Kalibagor, Patikraja dan Pekuncen di kabupaten Banyumas. Juga dari
desa –desa dari Purbalingga yang tersebar di kecamatan Rembang, Mrebet,
Kaligondang dan Kutasari. Personil yang hadir meliputi Kepala desa , Petugas
Koordinator dan Pendamping Kecamatan, Petugas Koordinator Desa . Hadir juga
para pemangku kebijakan dari Kementerian Pertanian Pusat diantaranya Sesdit
Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir. Nasrullah, Direktur Perbibitan Ir. Sugiono,
Dirjennak DR. I Ketut Diarmita, Direktur Kesmavet Drh. Syamsul.Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta telah selesai melaksanakan Program Bekerja ( Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera ) di Tahun 2018. BBVet Wates menjadi Unit Pelaksana Teknis ( UPT ) yang pertama kali selesai diantara lembaga pemerintah yang lain yang mendapat tugas tambahan untuk melaksanakan Program Bedah Kemsikinan Rakyat Sejahtera ( BEKERJA ). Program Bekerja merupakan salah satu Program Unggulan dari Kabinet Bekerja yang langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat berupa bantuan ayam sejumlah 50 ( limapuluh ) ekor setiap Rumah Tangga Miskin ( RTM). Pelaksanaan Program Bekerja oleh BBVet Wates di Kabupaten Purbalingga dan Banyumas menjadi contoh bagi UPT yang lain, seperti BBVet Maros di Sulawesi, BBVet Lampung di Sumatera, BBPTU Baturaden dengan wilayah bagi di Kabupaten Brebes dan Jawa Barat, Pusvetma dan BBIB Singosari di Jawa Timur. Berbagai permasalahan dan hambatan baik dari pengadaan Ayam , interaksi dengan RTM ( Rumah Tangga Miskin ) penerima ayam Program Bekerja, komunikasi dengan Dinas dan Pemerintah desa, hingga metode pembagian yang dilaksanakan oleh BBVet Wates menjadi contoh untuk pelaksana Program Bekerja di wilayah lain di Indonesia.
Arahan disampaikan para pemangku
kebijakan diantaranya IR NAsrullah selaku Sesdit Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian, juga Dirjennak DR Ketut kemudian dilanjutkan diskusi
hangat dengan para stakeholder Program Bekerja menghasilkan hasil-hasil positif
bagi perbaikan , baik system maupun
manajemen serta metode dari program Bekerja yang meliputi proses persiapan, penanganan hambatan dan
solusinya sehingga di tahun 2019 Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera
dapat berjalan dengan lebih baik dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.( BAS/ RED) FETPV – PELVI , HARAPAN BARU BAGI APLIKASI EPIDEMIOLOGI
BSD-Tangsel-3/12/2018 Program Epidemiologi Lapangan
Veteriner Indonesia ( PELVI ) dan Field Epidemiology Training Programme for
Veterinarians ( FETPV ) merupakan kegiatan dengan ide aplikasi ilmu
epidemiologi di lapangan dengan menggunakan dan mempertimbangkan
prinsip-prinsip yang sesuai kaidah dan menyelaraskan kebutuhan masyarakat,
dalam hal ini masyarakat peternakan. Harapan pelatihan setidaknya personil
alumni PELVI dapat memberikan contoh aplikasi epidemiologi yang benar, dapat
memberikan pendampingan, dan diseminasi terhadap medic dan paramedik baik di
Balai maupun di dinas Provinsi hingga Kabupaten /Kota. Kegiatan training dan
pelatihan program ini sudah berlangsung sejak tahun 2008 sebagai awal dan
berlanjut hingga tahun ini, dengan bentuk formal berupa jenjang pendidikan S2
di UGM dan training berkelanjutan yang diadakan sebagai kerjasama FAO dan Ditjen
PKH Kementerian Pertanian. Program ini akan terhubung dengan konsep ONE HEALTH
yang memang sedang menjadi focus dari bidang kesehatan dan kesehatan veteriner,
untuk sosialisasi dan penerapannya di Indonesia.
Pertemuan pada hari ini, Senin -Selasa tanggal 3 dan 4 besuk
menghadirkan semua stakeholder yang terlibat dalam program PELVI dan FETPV diantaranya
: Dari UGM,IPB, Balai dan Balai Besar Veteriner dan Balai Pengujian Mutu Produk
dan Hasil ( BPMSH ) serta Badan SDM yang diwakili BBSDMP Cinagara. Stakeholder
yang hadir membahas mengenai progress program PELVI atau training epidemiologi
lapangan yang sudah berlangsung sejak awal tahun, untuk evaluasi dan perbaikan
bagi program yang berkelanjutan di tahun 2019.
Pertemuan ini dibuka oleh DR. Fadjar Sumping
Tjatur Rasa Phd selaku Direktur Kesehatan Hewan, Dr Luuk Schonman ( FAO
Indonesia ), DR Karoon Chanachai ( FETPV Regional Asia ), juga Dr. I Nyoman
Kandun, MPH ( Direktur FETP Indonesia ). Dari kalangan akademisi ada Prof.
Setiawan B, juga akademisi dari IPB dan UGM yang lain. Hasil kesepakatan dari
pertemuan ini akan tertuang dalam beberapa poin yang akan dirangkum dan
disampaikan kepada seluruh stakeholder yang hadir maupun tidak, agar Program
yang bagus ini dapat berjalan lebih baik lagi di tahun 2019. Salah satu rekomendasi pertemuan ini adalah
bahwa peserta PELVI ataupun Personil yang mendapatkan Beasiswa FETPV hendaknya
membuat perbaikan-perbaikan bagi Balai atau dinas serta lingkungan kerjanya,
yang dapat semakin menguatkan tugas dan fungsi lembaga tempatnya bekerja. ( BAS
)
Minggu, 02 Desember 2018
BBVet Wates Akan Lakukan Surveillance AMR terhadap Produk Peternakan
Yogyakarta - Resistensi Antimikroba (AMR-Anti Microba Resistensi) menjadi ancaman yang menyita perhatian dunia kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan lingkungan. Selain itu, ancaman Resistensi Antimikroba juga dipandang sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor perternakan, pertanian dan perikanan.
Oleh karena itu Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates hadir dan ikut secara aktif dalam acara 'International Scientific Conference on AMR 2018' dengan tema Raising Awareness and Understanding on AMR Through One Health Approach for Health Professionals. Acara tersebut dilaksanakan di Hotel JW Marriot, Jakarta pada tanggal 28-29 November 2018 yang lalu, yang merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan WHO.
“Balai Besar Veteriner Wates akan berperan serta secara aktif dengan mengagendakan dan akan melaksanakan Surveillans Resisten Antimikroba pada produk-produk peternakan pada tahun 2019,“ jelas drh. Bagoes Poermadjaja MSc, Kepala Balai Besar Veteriner Wates, yang juga merupakan salah satu pembicara pada acara tersebut, kepada media ini, Sabtu (1/12/2018).
Untuk menghadapi ancaman Resistensi Antimikroba, lanjut Bagoes, diperlukan Konsep One Health. Konsep ini memastikan seluruh pemangku kepentingan dilibatkan dalam menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
Pendekatan One Health mencakup pemikiran bahwa permasalahan yang memberikan dampak kepada kesehatan manusia, hewan dan lingkungan dapat diselesaikan secara efektif melalui komunikasi dan kolaborasi yang lebih baik di antara para pemangku kepentingan dari berbagai disiplin ilmu dan kelembagaan, menuju pada masyarakat yang lebih sehat dan bahagia.
“BBVet Wates merupakan Laboratorium rujukan Nasional untuk beberapa penyakit penting di bidang peternakan seperti Avian Influenza, Anthrax dan Salmonella, dan kami juga menjadi focal point untuk pelaksanaan Program Surveillans AMR pada tahun 2019 nanti,” pungkas drh. Bagoes saat diwawancarai awak media. (BAS/Red)
Sabtu, 01 Desember 2018
BBVET WATES SEBAGAI PELOPOR PERJUANGAN IMPLEMENTASI RESISTENSI ANTI MIKROBA DENGAN ONE HEALTH
Yogyakarta- 1/12/2018. Resistensi Antimikroba (AMR-Anti
Microba Resistensi) menjadi ancaman yang menyita perhatian dunia
kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan lingkungan. Selain itu, ancaman
Resistensi Antimikroba juga dipandang sebagai ancaman serius bagi
keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor
perternakan, pertanian dan perikanan.
Oleh karena itu Balai Besar Veteriner Wates hadir
dan ikut secara aktiv dalam acara 'International Scientific Conference on AMR
2018' dengan tema Raising Awareness and Understanding on AMR Through One Health
Approach for Health Professionals. Acara tersebut dilaksanakan di Hotel JW
Marriot, Jakarta pada tanggal 28-29 November 2018 yang lalu, yang merupakan kerjasama
antara Kementerian Kesehatan dan WHO.
“Balai Besar Veteriner Wates akan berperan
serta secara aktiv dengan mengagendakan dan akan melaksanakan Surveillans
Resisten Antimikroba pada produk-produk peternakan pada tahun 2019 “Jelas drh.
Bagoes Poermadjaja MSc, Kepala Balai Besar Veteriner Wates, yang juga merupakan
salah satu pembicara pada acara tersebut.
Untuk menghadapi ancaman Resistensi
Antimikroba, diperlukan Konsep One Health. Konsep ini memastikan seluruh
pemangku kepentingan dilibatkan dalam menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
Pendekatan One Health mencakup pemikiran bahwa permasalahan yang memberikan
dampak kepada kesehatan manusia, hewan dan lingkungan dapat diselesaikan secara
efektif melalui komunikasi dan kolaborasi yang lebih baik diantara para
pemangku kepentingan dari berbagai disiplin ilmu dan kelembagaan, menuju pada
masyarakat yang lebih sehat dan bahagia.
“BBVet Wates merupakan Laboratorium rujukan
Nasional untuk beberapa penyakit penting di bidang peternakan seperti Avian
Influenza, Anthrax dan Salmonella, dan kami juga menjadi focal point untuk
pelaksanaan Program Surveillans AMR pada tahun 2019 nanti,” pungkas drh Bagoes
saat diwawancarai hari ini.( BAS )
Jumat, 30 November 2018
WILAYAH PROGRAM BEKERJA BALAI BESAR VETERINER WATES TAHUN 2018
YOGYAKARTA-
Program
BEKERJA merupakan upaya Kementerian Pertanian mengentaskan kemiskinan di Tanah
Air berbasis pertanian dengan tiga tahapan, yaitu Jangka Pendek, Jangka
Menengah, dan Jangka Panjang. Secara keseluruhan, kebijakan ini akan digelar di
1.000 desa di 100 kabupaten se-Indonesia.
Balai Besar Veteriner Wates mendapatkan kesempatan untuk berperan serta dalam
Program Bekerja ini di wilayah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga dengan
wilayah sejumlah 8 Kecamatan, Jumlah Desa : 52 Desa.. Program sudah
dilaksanakan sejak pertengahan Agustus, hingga selesai di akhir Bulan November
2018. Ada masing-masing 4 ( empat ) Kecamatan di Kabupaten Banyumas dan
Purbalingga yang menjadi target Program Bekerja ( Bedah Kemiskinan Rakyat
Sejahtera ) tahun 2018 ini. Adapun desa-desa di kecamatan tersebut meliputi
:Kecamatan JATILAWANG (11 DESA) Adisara, Bantar, Gentawangi, Gunung
Wetan, Karanganyar, Karanglewas, Kedungwringin, Margasana, Pekuncen,
Tinggarjaya, Tunjung. PATIKRAJA (13 DESA) Karanganyar, Karangendep,
Kedungrandu, Kedungwringin, Kedungwuluh Kidul, Kedungwuluh Lor, Notog,
Patikraja, Pegalongan, Sawangan Wetan, Sidabowa, Sokawera Kidul, Wlahar Kulon.PEKUNCEN
(16 DESA) .Banjaranyar, Candinegara, Cibangkong, Cikawung, Cikembulan,
Glempang, Karangkemiri, Karangklesem, Krajan, Kranggan, Pasiraman Kidul,
Pasiraman Lor, Pekuncen, Petahunan, Semedo, Tumiyang.KALIBAGOR (12 DESA) .Kalibagor,
Kalicupak Kidul, Kalicupak Lor, Kaliori, Kalisogra Wetan, Karangdadap,
Pajerukan, Pekaja, Petir, Srowot, Suro, Wlahar Wetan.
PURBALINGGA,
meliputi Desa : 63
Desa yang tersebar di KALIGONDANG (18 DESA) Arenan, Brecek, Cilapar,
Kaligondang, Kalikajar, Kembaran Wetan, Lamongan, Pagerandong, Penaruban,
Penolih, Selakambang, Selanegara, Sempor Lor, Sidanegara, Sidareja, Sinduraja,
Slinga, Tejasari.KUTASARI (14 DESA) Candinata, Candiwulan, Cendana,
Karangaren, Karangcegak, Karangjengkol, Karangklesem, Karanglewas, Karangreja,
Kutasari, Limbangan, Meri, Munjul, Sumingkir.MREBET ( 19 DESA) Binangun,
Bojong, Campakoah, Cipaku, Karang Nangka, Karangturi, Kradenan, Lambur,
Mangunegara, Mrebet, Onje, Pager Andong, Pengalusan, Sangkanayu, Selaganggeng,
Serayu Karanganyar, Serayu Larangan, Sindang, Tangkisan.REMBANG (12 DESA) Bantarbarang,
Bodas Karangjati, Gunungwuled, Karangbawang, Losari, Makam, Panusupan,
Sumampir, Tanalum, Wanogara Kulon, Wanogara Wetan, Wlahar.
Distribusi
bantuan berupa pakan, obat-obatan dan ayam telah selesai dilaksanakan dari
bulan Agustus hingga bulan November 2018. Berbagai Workshop, Bimbingan Teknis
dan Pendampingan serta Monitoring baik perkembangan dan kesehatan ternak telah
dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Wates, dengan senantiasa bekerjasama
dengan Bidang dari dinas yang menangani Program tersebut, serta para petugas
coordinator desa dan coordinator kecamatan. Evaluasi terhadap program juga akan
dilaksanakan di awal bulan Desember 2018 sehingga diharapkan perbaikan untuk
program Bekerja di tahun 2019.( BAS)
Rabu, 28 November 2018
MONITORING PROGRAM BEKERJA TAHAP 2 BULAN NOVEMBER 2018
Purbalingga-Balai Besar Veteriner Wates dalam pekan
terkahir di bulan November ini memberangkatkan
4 ( empat ) Tim yang masing masing terdiri dari Dokter Hewan dan
Paramedik untuk terjun ke lapangan di desa-desa di Kabupaten Purbalingga dan
Banyumas, untuk melakukan Monitoring perkembangan Program Bekerja berupa
bantuan ayam kepada Rumah Tangga Miskin ( RTM ). Tim-tim ini akan bertugas dari
tanggal 26 hingga 29 November 2018.
Ibu Kaslam Mardiyanto , seorang peternak dari
desa Slinga Kecamatan Kaligondang Kabupaten
Purbalingga mengatakan pada Drh Dewi ( Tim medicvet BBVet Wates) bahwa meskipun
kandang miliknya sederhana, namun dia bersyukur bahwa ayamnya sehat dan
berharap bebrapa bulan lagi dapat bertelur. Ibu ini juga berharap keberlanjutan
Program Bekerja karena dirasakan manfaatnya bagi keluarganya yang memerlukan
tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Harapan senada
disampaikan peternak dari desa Slinga lainnya diantaranya Kodir Irawan, Minarjo
dan Kasman yang sudah memelihara ayam bantuan Program Bekerja sejak kurang lebih
3 bulan ini dan semuanya sehat.
Kamadi ,peternak dari desa Suro ,Kalibagor kabupaten Banyumas menyatakan hal yang sama
pada Drh Nurohmi, bahwa keluarganya menaruh harapan besar bagi keberhasilan
Program dari Kementerian Pertanian ini. Adapun drh Dwi Hari menemukan bahwa
memang ada kematian pada ayam di desa Karangjengkol Kecamatan Kutasari
Purbalingga, namun hal tersebut tidak menyurutkan RTM penerima Program Bekerja
untuk terus memelihara ternak ayam bantuan tersebut.
Monitoring terhadap perkembangan ternak
dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Wates setelah distribusi ayam dilakukan. Sosialisasi berkaitan dengan
pemeliharaan,manajemen dan penggunaan obat, pemberian vitamin juga sudah
dilakukan dengan mengadakan Bimbingan teknis kepada para koordinator baik
tingkat desa maupun kecamatan.
Tim Monitoring ini disamping melakukan
pendataan, pemantauan penyakit, juga memberikan penyuluhan langsung, komunikasi
dan interaksi kepada RTM penerima bantuan agar berbagai permasalahan dapat
dicarikan jalan keluarnya secara tepat dan dapat meningkatkan taraf pemahaman
peternak. (*)
OPTIMALISASI MULTIMEDIA DI ERA MEDSOS
BOGOR-Hari Selasa hingga Kamis 27-29/11/2018 BBVet Wates menugaskan 2 Personil untuk mengikuti Workshop Optimalisasi Multimedia, drh. Basuki Rochmat Suryanto dan Aditya Bagus Kurniawan selaku pengelola Informasi publik di Balai Besar Veteriner Wates . Kegiatan ini diadakan oleh DItjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, diadakan di botani Square Bogor Jawa Barat. Pada kegiatan Workshop Optimalisasi Multimedia ini akan dilakukan pelatihan terkait pembuatan Press release, pembuatan Infogram serta liputan video.
Beberapa Narasumber akan memberikan arahan dan pelatihan serta bimbingan dalam acara workshop ini, diantarannya IR.Nasrullah , Ketua PPWI Wilson Lalengkang, Mung Pujanarko Praktisi Multimedia dan Dosen Jayabaya, serta Bapak Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas Kementerian Pertanian.
Dalam acara ini Karo Humas Kementerian Pertanian memberikan materi berupa arahan tentang strategi kehumasan yang mempunyai tujuan untuk memberikan penjelasan fungsi dan tugas Humas ditiap lingkup Ditjen PKH, yang kedepan nanti diharapkan tiap UPT mempunyai Tim Khusus yang bertugas menangani kehumasan masing masing UPT Kementan.
Dalam acara tersebut terbagi menjadi beberapa sesi Tanya jawab, untuk mengetahui masalah masalah yang ada pada lingkup tiap UPT masing masing peserta. Beberapa perwakilan dari UPT menyampaikan tidak adanya fasilitas penunjang untuk kehumasan tersebut, tidak adanya SDM yang mempunyai basic/ latar belakang jurnalistik. Selain itu dari Perwakilan UPT ada yang menyampaikan adanya kendala pada anggaran . Narasumber sepakat untuk menambah anggaran untuk alokasi Kehumasan di UPT Kementan, sehingga diharapkan kedepan dengan adanya penambahan anggaran tersebut kegiatan kehumasan dapat berjalan dengan baik dalam fungsi penderasan informasi .(*)
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Yogyakarta- 1/12/2018. Resistensi Antimikroba (AMR-Anti Microba Resistensi) menjadi ancaman yang menyita perhatian dunia kesehatan masy...
-
BSD-Tangsel-3/12/2018 Program Epidemiologi Lapangan Veteriner Indonesia ( PELVI ) dan Field Epidemiology Training Programme for Veterin...















